Jumat, 29 Juli 2016

Hujan Yang Salah


Sepasang anak kecil berlari riang
Dibawah deras hujan yang sedikit tenang
Entah terlihat begitu riang
Atau hanya bahagia lepas dari kandang

Hiruk pikuk kota mulai terhenti
Sekumpulan pekerja bersembunyi di liang
Menunggu hujan yang tak kunjung hilang
Menatap iri bocah bocah yang terlihat riang

Tapi tunggu dulu…
Ada yang berbeda dengan hujan
Meneteskan nanah penuh amarah
Hey, ini hujan yang salah

Sepasang bocah mulai terdiam
Melihat hujan yang baku hantam
Tulang tulang mereka mulai bermunculan
Bahagia kini menjadi jerit meronta

Ini hujan yang salah
Hujan yang seharusnya tidak di kota ini
Hujan yang seharusnya berada di antah berantah
Hujan yang seharusnya tak pernah ada

Sembari meneguk teh hangat
Kulemparkan senyum pada wajah derita
Hujan ini tidaklah salah
Aku hanya muak dengan tingkah manusia

Inilah penghakiman…

Kamis, 28 Juli 2016



Segelas Kopi Hitam Tanpa Gula


Segelas kopi hitam tanpa gula
Menemani waktu yang terbuang percuma
Dengan sedikit hiruk pikuk binatang malam yang tersisa
Memandang layar yang merusak mata

Sepertinya sudah tidak lagi panas
Kuteguk segelas kopi hitam tanpa gula
Dengan wajah nyiyir akan rasa
Kembali dalam situasi kerja

Sebatang rokok kutemukan di sela kesibukan
Kunyalakan untuk menenangkan
Sedikit relaksasi dalam penat
Walau mata sudah sedikit rusak

Sepertinya aku harus kembali ke liang
Karena langit sudah hampir terang…

Salam,
Dari pekerja yang gantung diri kemarin malam…
Apa Kabar Nona?


Hallo, apa kabar Nona?
Masih ingatkah dengan saya?
Masih ingatkah dengan luka?
Masih ingatkah dengan derita?

Kemarin malam setelah hujan lebat tiba
Sedikit merenung tentang rasa lalu
Luka yang kemarin tercipta
Perih yang belum sempat terobati

Hallo, apa kabar Nona?
Sudahkah Nona bergerak maju?
Sudahkah Nona mendapat bahu?
Sudahkah Nona mengenang diriku?

Sempat kita bermandikan bintang
Sempat kita basah karena hujan
Mungkin kini hanya angin lalu
Tapi sempat aku memelukmu

Hallo, apa kabar Nona?
Tenang saja, ini bukan ungkapan hati
Hanya ingin menikmati perih
Duduk termenung menatap rintik

Nona, mungkin sudah bergerak maju
Meninggalkan cerita bersama
Tenang saja kau disana
Aku disini baik baik saja

Kemarin, hari ini, bahkan besok lusa
Aku ingin menatapmu
Walau hanya sebatas mata
Walau hanya dari langit